Apa Setelah Pelatihan Jurnalistik dan Kepenulisan?
Pada tanggal 28 hingga 29 maret 2008 yang lalu, KMA, dalam hal ini Departemen Publikasi, mengadakan acara Pelatihan Jurnalistik dan Kepenulisan. Acara yang hampir diadakan setiap tahun ini berisi beberapa materi penting seputar dunia jurnalistik dan kepenulisan, seperti tentang ideologi seorang penulis, pembagian ragam tulisan di media massa, karya fiksi dan non fiksi, dan lain sebagainya. Para pemateri yang dihadirkan pun tokoh-tokoh yang sudah sangat dikenal baik oleh mahasiswa Indonesia di Mesir, seperti Irsyad Azizi dan Taryudi Kasimun. Selain materi yang bernuansa jurnalistik dan kepenulisan, pelatihan ini juga memuat materi tentang keelasyian yang disampaikan oleh seorang aktifis kenamaan el-asyi, Mubashshirullah Musa.
Kegiatan pelatihan seperti ini tentu saja memiliki urgensi yang cukup penting. Di tengah dinamika kehidupan zaman modern yang sangat mementingkan penulisan, menulis sudah menjadi kebutuhan primer yang sangat urgen. Di samping itu, di tengah-tengah opini publik yang meremehkan kemampuan alumni Mesir dalam menulis, pelatihan yang bernuansa kepenulisan seperti ini sangatlah dibutuhkan untuk membangkitkan kemampuan para mahasiswa Aceh di Mesir dalam menulis opini, makalah, feature, atau meracik berita dan menyajikannya dengan bahasa yang enak untuk dibaca. Belum lagi kita berbicara tentang mulai masuknya arus pemikiran liberal dan sekuler ke Aceh, yang membutuhkan “para pendobrak” untuk menangkis pemikiran-pemikiran rusak itu dengan tulisan-tulisan bermutu dan mencerahkan.
Maka, yang sangat perlu kita pikirkan adalah, mampukah pelatihan yang hanya dua hari itu langsung dapat mendongkrak kemampuan menulis para peserta? Dalam ungkapan lain, setelah pelatihan selesai, apakah peserta sudah dapat dikategorikan sebagai penulis?
Jawaban dari pertanyaan di atas tentu saja tidak mungkin. Menulis itu adalah fann, atau dalam bahasa kita disebut “seni,” yaitu gabungan dari teori dan praktik, di mana bagian praktik memiliki porsi lebih besar dari teori. Dengan demikian, seseorang baru dapat dikatakan sebagai penulis apabila ia telah mampu menghasilkan tulisan, bukan karena telah menghafal teori-teori kepenulisan atau sudah pernah mengikuti pelatihan kepenulisan. Tidak berarti bahwa teori itu tidak penting. Bagaimanapun, menguasai teori merupakan awal dari praktik yang baik. Teori juga dapat mengarahkan sang penulis ketika ingin menghasilkan sebuah tulisan.
Nah, dalam Pelatihan Jurnalistik dan Kepenulisan, hanya bagian teorinya yang menjadi target, bukan praktiknya. Karena itu, pelatihan saja tidaklah cukup. Kita butuh follow up dan kelanjutan dari kegiatan ini berupa kesempatan bagi para peserta untuk dapat mempraktikkan teori yang mereka dapatkan. Mulanya, mereka harus memulai dengan praktik-praktik kecil seperti menulis opini sederhana dengan menitikberatkan pada pengembangan ide tulisan dan ketepatan elemen-elemen paragraf. Praktik kecil ini dapat diteruskan dengan memberikan kesempatan untuk mengisi rubrik-rubrik mading yang akan diganti seminggu atau dua minggu sekali. Kemudian, dapat dilanjutkan dengan pengenalan cara membuat makalah yang diteruskan dengan kewajiban membuat makalah ilmiah untuk dipresentasikan di depan para anggota yang lain. Sebuah kegiatan bertingkat yang dapat menutupi bagian praktik dalam membangun kemampuan menulis.
Oleh karena itu, dalam lingkup KMA, kita dapat memanfaatkan Study Club Zawiyah sebagai satu-satunya wadah yang mengarahkan para anggotanya untuk berdiskusi dan menulis. Para peserta pelatihan jurnalistik diharapkan dapat tertampung dalam kelompok studi ini untuk terus mengembangkan skill dan menulis sesering mungkin. Dengan demikian, maka pelatihan jurnalistik dan kepenulisan akan lebih bermakna dalam meretas jalan menuju lahirnya mahasiswa-mahasiswa Aceh yang memegang otoritas ilmu-ilmu keislaman dan mampu melahirkan berbagai karya yang dapat mengisi khazanah intelektual Aceh masa depan. Amin ya Rabb.




kirim ke teman
versi cetak